Tampilkan postingan dengan label orange. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orange. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2014

MIHIHIHIHIHIHI

And if I heard you on the radio
I'd never want to change a single note
It's what I'm trying to say all along
You're my favorite song <3

MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI. MIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI.

Coba hitung berapa banyak huruf 'H' dan 'I' di atas! *ealah* *sudah Nik, sudah...*

Sabtu, 19 Juli 2014

Fabulous 30

Jadi..kemarin saya minta film-film ke salah satu temen saya, namanya Sonya. Si Sonya ini udah dari lama rekomendasiin satu film yang katanya harus saya tonton. Judulnya Fabulous 30.



Filmnya..bagus. Tentang Ja (Patcharapa Chaichue) yang galaw gara-gara diputusin cowoknya pas ulang tahun ke 30. Sedih banget kan, padahal mereka udah pacaran selama 7 tahun. Padahal temen-temennya yang lain udah pada mau nikah bahkan ada yang udah hamil.
Nah, di ulang tahunnya yang ke 31, tiba-tiba muncul cucu nenek tetangganya, namanya Por (Phuphom Phongpanu). Por ini keliatan banget naksir sama Ja. Ja juga kayaknya naksir balik sih.

Terus apa masalahnya?
Nah itu dia. Masalahnya...Por baru umur 24 tahun :'

Sekarang paham kan kenapa Sonya nyuruh saya nonton film ini? HAHAHAHAHAHAHAHAHAKHAKHAK *keselek harddisk film*
Ya..beda umurnya saya nggak sampe 7 tahun sih..tapi kan..HAHAHAHAHAHAHAHAHAKHAKHAK *keselek harddisk film* *lagi*

Saya suka banget deh sama Por. Pertama, dia cuteeeee. Kedua, dia sweeeeet. Oke abaikan. Tapi emang beneeeeer. Mukanya agak-agak mirip artis Indonesia, Galih Ginanjar. Iya gak sih? Kalo Ja mukanya mirip Maia Estianty. #eaaa
Ada satu tokoh lagi nih yang menarik. Halah. Namanya Zen (Nithit Warayanon). Dia ini sahabatnya Por. Ganteng juga.

Ada salah satu dialognya Por yang paling ngena. Karena ada orang lain yang pernah bilang gitu juga ke saya. Minta di-uhuk-in banget kan? Iya emang. Sorry.

Saya gak mau komen banyak-banyak ah. Terlalu personal. HAHA.

Eniwei, kalo penasaran bisa minta film ke saya atau Sonya ya...

Kamis, 03 April 2014

Sudah Jam Segini

Sudah jam segini
Saya masih belum bisa tidur

Sudah jam segini
Saya masih menghadap laptop, tapi belum nyentuh tugas sama sekali

Sudah jam segini
Saya masih belum bisa berhenti lapar

Sudah jam segini
TV masih saya nyalain, walau nggak ditonton

Sudah jam segini
HP saya masih nyolok ke charger dan belum penuh juga

Sudah jam segini
Saya masih nunggu sesuatu dari seseorang

Sudah jam segini
Saya masih ngarang enaknya mau nulis apa lagi ya

Sudah jam segini...
Saya masih mikirin kamu aja...


#eaaaaa #UjungUjungnyaBegini #JamJamRawan :p

Minggu, 16 Maret 2014

Spesial

Saya tahu saya spesial.
Saya tahu saya memiliki kelebihan sendiri yang berbeda dari orang lain.
Kadang-kadang yang sangat jarang, saya juga merasa cantik.
Kadang-kadang yang sangat jarang juga, saya merasa senyum saya lumayan bagus.

Tapi kalo ada orang lain yang bilang gitu...
Yah, rasanya senang juga.
Rasanya kupu-kupu sekampung yang tinggal di perut ini joget oplosan barengan.

Bayangkan.

Ada yang orang yang bilang saya punya kelebihan.
Katanya saya cantik.
Katanya senyum saya bagus.
Yang paling parah...
Dia bilang saya spesial.

*brb melayang ke perumahan sebelah*

:">

Senin, 27 Januari 2014

Menafsirkan Kebelet Pipis

Post ini sangat nggak penting. Kecuali kamu sangat nganggur, mending lewatin aja. Nggak usah dibaca :))

Jadi gini, belakangan ini saya agak susah menafsirkan apakah saya kebelet pipis atau enggak. Sebenernya gampang aja sih, tinggal duduk di wc, kalo pipis ya berati kebelet. Kalo enggak yaudah. Semudah itu. Tapi...saya males. Mager buat ke kamar mandi dan seterusnya. Hahaha.

Sebenarnya poin utamanya bukan kebelet pipisnya sih. Saya mendadak kepikiran, kalau menafsirkan rasa kebelet pipis aja bingung...
Apalagi menafsirkan perasaan saya ke kamu?

#ealah #pret
Nik, leren, Nik...

Oke. Postingan ini bisa diabaikan. Sekian dan sampai jumpa.

Sabtu, 25 Januari 2014

Two Voices, One Song

It's so rare to find a friend like you
Somehow when you're around the sky is always blue
The way we talk
The things you say
The way you make it all ok
And how you know
All of my jokes
But you laugh anyway...
If I could wish for one thing
I take the smile that you bring
Wherever you go in this world I'll come along
Together we dream the same dream
Forever I'm here for you, you're here for me
Two voices, one song
And anywhere you are you know I'll be around
And when you call my name I'll listen for the sound
If I could wish for one thing
I take the smile that you bring
Wherever you go in this world I'll come along
Together we dream the same dream
Forever I'm here for you, you're here for me
If I could wish for one thing
I take the smile that you bring
With you by my side I can go on
Now I have all that I need
And the sweetest sound will always be


Lagu Barbie and The Diamond Castle. Bagus. Banget.
Sebenernya bukan buat 'friend' sih, tapi...ah sudahlah.

Minggu, 05 Januari 2014

INI MINGGU DEADLINE DAN KAMU MALAH NGEPOST BEGINIAN, NIK???

“Hai. Maaf aku terlambat. Minggu ini aku sibuk sekali.” Setengah tergesa, seorang wanita menarik kursi lalu menghempaskan diri di atas busa empuknya.
Pria yang sudah menunggu satu jam itu mendecakkan lidah. “Kebiasaan. Kamu pikir aku tidak sibuk?”
Si wanita meringis dengan kikuk. Ia merasa sedikit bersalah juga sebenarnya karena membiarkan sahabatnya menunggu cukup lama.
“Baiklah, aku salah. Malam ini aku yang bayar deh,” bujuk wanita itu sembari meneliti daftar menu. Melihat wajah Si Pria mendadak diliputi senyum, ia ganti mendecakkan lidah. “Dasar gampangan.”
Si Pria tertawa. “Senang karena ditraktir itu bukan berarti gampangan ya,” Tawanya berubah menjadi kekehan putus-putus.
“Gampangan,” ulang Si Wanita sambil menjulurkan kepala dari balik buku menu. Tak lama kemudian ia merasakan segumpal tisu mendarat di kepalanya. Tak lain itu lagi ulah Si Pria yang masih terkekeh-kekeh. Setelah memutar bola mata di hadapan Si Pria, ia menyebutkan pesanannya kepada waiter. Masih dengan gumpalan tisu di puncak kepalanya.
“Jika ada sebutan gampangan, maka kau ini adalah lawan katanya,” Si Pria memungut tisu yang tadi ia lemparkan sendiri.
“Apa maksudmu?”
“Aku cuma heran, well, kamu betah banget sendiri,” kata Si Pria sambil memainkan tisu di tangannya.
Di bawah tatapan pria yang duduk di depannya, Si Wanita menukas, “Bagaimana kalau dibalik?”
“Kamu heran mengapa aku betah banget berdua?”
“Yap.”
Kekehan Si Pria terdengar lagi. Lalu menular. Si Wanita ikut terkekeh.
Setelah kekehan mereka habis, Si Pria menukas, “sebenarnya, walaupun tidak cantik, senyummu itu cukup manis, lho. Masa sih tidak ada pria yang mendekatimu?”
Si Wanita tersedak. Tentu saja karena salah tingkah. Itu tadi...pujian, bukan?
Pandangan mata Si Pria semakin menyelidik. Si Wanita, karena semakin salah tingkah, mengalihkannya dengan mendelik. “Nggak usah ngejek, deh.”
“Hei, aku serius. Gini deh, aku punya beberapa teman yang single, kalau kamu mau aku bisa mengenalkanmu pada mereka. High quality, lho,” tawar Si Pria dengan baik hati.
Si Wanita hanya tertawa. “Tidak, terimakasih. Kurasa aku akan bertemu jodohku jika waktunya tiba,” tukasnya mantap.
Si Pria mendesah tidak sabar. “Ya Tuhan, pemikiranmu. Sangat kamu. Apakah ini soal wanita harus menunggu dan sebagainya?”
“Yap.” Angguk si wanita.
“Dasar primitif.”
Seolah kehabisan kata-kata, wanita itu melepas kuncir ekor kudanya. “Terserah kamu lah mau bilang apa,”lanjutnya cuek.
“Ini 2013, males banget sih. Usaha dikit kek,” ujar Si Pria pantang menyerah.
Mendengar sahabatnya, ia hanya mengedikkan bahu sebagai tanggapan. Digelungnya rambut hingga membentuk cepolan rapi di puncak kepala, menyisakan beberapa helai anak rambut di tengkuk dan dekat telinganya.
Pria yang menyampirkan jaket di sandaran kursinya itu mendecakkan lidah. Sahabatnya memang keras kepala. Dan primitif. Sejujurnya, ia agak heran juga mengapa ia mau bersahabat dengan wanita itu.
-bersambung-

Nah, gimana?
Percayalah bahwa cerita ini fiktif belaka. Tidak mengandung unsur-unsur curhat penulis atau apapun. Serius.
Ini belum selesai. Pengennya sih dilanjutin tapi masih males. Doakan aja ceritanya bisa selesai dan hasilnya bagus. Amiin.

Kemudian terdengar suara aneh dari dalam kepala saya, katanya, "INI MINGGU DEADLINE DAN KAMU MALAH NGEPOST BEGINIAN, NIK???"
*cengengesan* *brb nugas lagi*

Rabu, 06 November 2013

Pokoknya Update

Memang ya, orang yang punya good sense of humor itu adorable.

Sudah gitu aja.

Sekian terimakasih.

Minggu, 16 Juni 2013

Diary

Karena terdorong sama novelnya Jacqueline Wilson yang judulnya Hetty Feather dan lanjutannya, Sapphire Battersea, saya ingin rajin nulis diary lagi.

Setelah baca-baca ulang tulisan saya di diary...saya ngikik sendiri. Terlalu banyak 'ternyata' yang muncul

Ternyata saya pernah ngalamin hal-hal ajaib kayak gitu ya...
Ternyata saya bisa nulis pake kalimat kayak gitu ya...
Ternyata saya pernah naksir sama orang yang kayak gitu ya... #eaaa

Ternyata, menulis diary itu penting. Supaya momen-momen yang berharga itu nggak hilang begitu saja. Cieh banget, kan? :))

Maka dua hari belakangan ini, dengan rajin saya bawa buku diary saya kemana mana. Pada dasarnya sih hari ini saya gabut total dan hanya mbambung around di rumah.
Apa itu mbambung around? Mungkin hanya saya dan rumput bergoyang yang tahu. Jadi mari abaikan saja.


Coba tebak, dua hari ini saya berhasil nulis berapa halaman?


Sepuluh! Biasanya dua halaman aja udah syukur. Pernah malah satu halaman udah ketiduran.

Mudah-mudahan saya bisa istiqomah ngisi diary-nya. Tolong dibantu ya...Bim salabim jadi apa? Prok, prok, prok


Ini penampakan diary saya. Warnanya unyu, kan? Kebetulan punya pulpen yang mirip, dikasih temen. Kalo jodoh emang nggak kemana ya #lah #tetep



.

Batas Tipis

Ada batasan tipis antara 'pernah' dengan 'masih'
Tipis sekali
Karena tipis itu makanya jadi tajam
Karena tajam jadinya sakit kalau kena

Katanya sih dulu kamu pernah
Tapi belum tentu juga, siapa tau sebenarnya tidak pernah
Kalau aku sih jelas pernah

Seandainya memang kamu pernah
Belum tentu sekarang masih

Kalau aku sih...


Jelas masih


Nggak enak banget di aku, ya? Sial.

Sabtu, 01 Juni 2013

Jelly






source : penelusuran di google



Kira-kira kenapa ya saya ngepost foto-foto jelly di atas?
Kira-kira kenapa hayo?

Kalo kamu pintar, cerdas, serta berbudi pekerti luhur, pasti kamu bisa menyimpulkan #kode yang berusaha saya sampaikan ini.

Saya yakin kamu yang baca blog ini adalah pribadi yang pintar, cerdas, serta berbudi pekerti yang luhur.
Jadi... simpulkan sendiri ya... *tersenyum simpul* *dengan kata lain, bibirnya disimpul pake tali jemuran*

Kethxbai. Kethex bai.
Smell your own kethex and bai.

Rabu, 10 Oktober 2012

Kata Orang

Yang dikatakan orang lain itu nggak selalu benar. Apa yang orang bilang baik, belum tentu baik. Apa yang orang bilang jelek, juga belum tentu jelek. Kadang beberapa yang orang bilang bikin kamu senang. Kadang beberapa yang orang bilang bikin hatimu bimbang. Omongan orang perlu didengar, sekalipun tidak semuanya benar. Omongan orang perlu disaring, terutama kalau melambungkan terlalu sering. Penting atau tidak penting. Benar atau tidak benar. Membahagiakan atau tidak membahagiakan. Orang akan selalu berkata-kata. Orang akan tetap berbicara. Sekalipun kamu tidak mau dengar. Sekalipun kamu menulikan telinga. Maka, mau tidak mau kamu harus tetap menguping. Kuping tidak bisa disimpan, sedangkan omongan orang tidak bisa ditahan. Mau tidak mau omongan orang akan menyusupi kupingmu. Jadi. Intinya. Dengarkan saja, Jangan dipikir terlalu dalam. Jangan dirasa terlalu suram. Dengarkan saja. Mendengar. Lalu diam.

Rabu, 12 September 2012

Sesuatu

Kadang kadang kamu memang butuh sesuatu yang bisa bikin semangat. Semacam motivasi gitu. Sesuatu yang setiap kamu ingat, kamu merasa semuanya bakalan baik-baik saja. Sesuatu yang bisa bikin kamu mau lari lagi meskipun sudah jatuh sampe lututmu luka berdarah darah nggak karuan.

Kadang kadang, sesuatu yang sama bisa membuat kamu nyaman di kasur sebelum tidur. Sesuatu yang bikin kamu bangun dengan bahagia karena kemunculannya di mimpi.

Dan yang paling penting, kamu selalu butuh sesuatu yang bisa memunculkan inspirasi. Yang bisa memaksa otakmu berpikir dan nggak bundel kayak benang yang ruwet tanpa ketauan ujungnya.

Halo sesuatu, di mana sih sebenernya kamu? Maksud saya, kamu-nya aku, gitu (ʃ⌣ƪ)

Selasa, 11 September 2012

Buat Yang Kenal Orange dan Biru

Setelah sekian lama nggak menyentuh cerita Orange-Biru, saya mencoba membuat versi lain keunyuan mereka.
Saya pengen bikin yang lebih panjang. Bukan sekedar potongan-potongan surat, atau cerpen kayak yang dulu dulu. Sayangnya, saya menemui jalan buntu. Bukan, bukan nggak ada ide. Ide sih banyak, banget malah. Dan justru karena saking banyaknya ide inilah saya makin bingung.
Idenya muncul sepotong sepotong gitu. Mana datengnya nggak bisa diprediksi kan. Menyatukannya itu loh yang bikin rempong.

Dear orange dan Biru, sabar ya, kisah kalian sedang digodok :3
Mudah-mudahan nggodoknya bisa pas, nggak kecepetan yang bikin masih mentah, atau kelamaan yang bikin kepala saya ikutan panas.
Dear Abu, smell ya later. Kamu bakal ikutan muncul kok :3

Sabtu, 01 September 2012

Pup

Kali ini, saya pengen bahas tentang menahan pup. Nahan pup adalah kegiatan sakral yang harus kita telaah lebih lanjut. Kondisi di mana kamu pengen banget mengeluarkan ampas sisa pencernaan tubuhmu, hanya saja kloset yang 'pas' nggak selalu bisa ditemukan.

Beberapa orang gampang saja mengeluarkan pup mereka di toilet umum, nggak peduli bersih seperti di mall atau jorok seperti di terminal bus.
Beberapa ada yang seberapapun kebeletnya, pup mereka nggak akan keluar sebelum nongkrong di kloset yg 'pas', yaitu di rumah sendiri.
Beberapa beruntung, karena menemukan toilet umum yang nyaman sehingga 'terasa seperti di rumah'.

Bagaimana dengan saya? Saya belum kebelet pup, hanya saja pengen nongkrong di atas kloset. Sambil baca bukunya Jacqueline Wilson. Percayalah, itu nikmat sekali.

Ngomong-ngomong, kamu ngerasa nggak kalo yang baru saja kamu baca ini sebenernya adalah sebuah analogi?

Senin, 30 Juli 2012

Untuk Kamu

Aku tidak tahu harus menulis apa untuk kalimat pembuka. Karena hai atau halo saja terasa ganjil. Kita sudah saling mengenal dan kita bukan teman lama yang kebetulan bertemu. Jadi, yah, kita lewati saja bagian ini.

Aku menulis karena tidak bisa mengatakannya langsung di depanmu. Aku memang banyak bicara, tapi di saat saat penting, seringkali lidahku menolak bekerjasama. Seperti waktu itu, ketika gelombang-gelombang mendatangimu. Tidak besar, tapi memualkan. Kamu terus menerus bicara, tentang betapa 'ruwet'nya dia. Betapa kamu sudah lelah.

Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi kamu, hanya saja aku bukan kamu. Aku ingin mengatakan sekalimat, atau dua, yang bisa membuatmu sedikit terhibur. Hanya saja selalu gagal. Ujungnya aku hanya bisa menutup mulut rapat-rapat. Sesekali mengangguk. Inginnya memeluk, tapi mana mungkin.

Aku yakin kamu tahu alasan aku hanya diam. Ucapanku tidak perlu, yang penting adalah indra pendengaranku menangkap setiap huruf yang mengalir darimu. Kedua telingaku. Seandainya ada sepuluh telinga, maka kesepuluh-sepuluhnya akan berfungsi penuh untuh keluh kesah milikmu.

Aku tidak bisa memberi nasehat, karena aku belum pernah tahu rasanya jadi kamu. Aku cuma bisa mendengar. Dan sesekali mengangguk.

Aku harap itu membantu.

Selasa, 12 Juni 2012

QOTD

"Ketika aku mencoba melupakan, dia akan kembali. Ketika aku mencoba mengingatnya, dia akan menghilang. Sehingga aku berusaha mengingat bahwa ia sudah tidak ada"

Secara nggak sengaja nonton The Moon That Embrace The Sun tadi siang dan salah satu tokohnya bilang begitu. Masih belum apal nama sama mukanya nih. Nggak sabar libur semester terus nonton dari awal sampe akhir :3

Kamis, 17 Mei 2012

Kebetulan?

Setelah saya pikir-pikir, rasanya yang disebut kebetulan itu...mungkin tidak ada.

Ketika kamu lagi jalan di mall, berapa peluangnya ketemu sama gebetan yang udah ditaksir sejak SD? Well, katakanlah itu suatu kebetulan. Tapi, ketika kamu lagi jalan di mall yang sama beberapa waktu setelahnya, berapa peluangnya kamu ketemu dia lagi? Terutama kalau lokasinya di cafe yang sama. Tepat saat kamu cerita ke temen-temenmu, tentang pertemuan kalian yang tidak sengaja sebelumnya? Kebetulan?

Ketika kamu lagi jalan ke suatu tempat dan mobilmu sudah nyaris keluar dari tempat parkir, berapa kemungkinannya matamu tidak sengaja menangkap wujud seseorang yang dulu pernah (atau mungkin masih :p) kamu taksir? Oke, mungkin kebetulan. Tapi kalau ban mobilnya kempes dan mama memaksa kamu memberitahunya soal itu? Meskipun akhirnya kamu menolak dan malah mamamu yang terpaksa harus berlari menuju mobilnya demi keselamatan orang itu? Masih kebetulan?

Ketika kamu sedang belanja di supermarket dekat rumah, kemudian kamu melihat seorang teman belanja juga. Kamu tidak menyapa, karena belum kenal dekat. Beberapa hari sebelumnya, kalian naik angkutan yang sama, juga tidak saling sapa. Rupanya sekarang kalian berteman baik dan sering mengobrol bahkan sampai hal yang tidak penting sekalipun. Kebetulan?

Ketika kamu diterima di salah satu perguruan tinggi, berapa kemungkinan orang yang sampai sekarang kamu belum bisa move on darinya juga diterima di tempat yang sama? Padahal kalian sudah cukup lama belajar di kota yang berbeda. Dia memang tidak ikut organisasi yang sama seperti kamu, tapi kalau markas organisasi kalian berdekatan? Kebetulan?

Ketika kamu akhirnya menikah. Berapa peluang bahwa pasanganmu adalah temanmu sejak smp dan sekelas saat SMA? Mungkin kebetulan. Tapi kalau sifatmu benar-benar mirip mertuamu, dan sifat pasanganmu sangat mirip orangtuamu? Kebetulan?

Ketika kamu sedang berkunjung ke kampus temanmu, kamu pergi ke masjid untuk sholat. Kamu asal saja memakai mukena yang ada di tumpukan lalu memakainya. Berapa persen kemungkinan kamu memilih yang bertuliskan “ikatan mahasiswa kota x”, di mana kota x adalah kota asal seseorang yang (mungkin pernah jadi) penting buat kamu? Kebetulan?

Ketika kamu dalam perjalanan menuju suatu tempat, kamu sedang asyik mengobrol dengan salah satu temanmu. Berapa sih peluang kamu melihat kelebatan orang yang kamu taksir waktu SMA (atau sampai sekarang, mungkin?), dan setelah kamu pastikan itu memang dia. Kebetulan?

Ketika kamu di jalan pulang, setelah hari yang panjang dan melelahkan, adakah peluang kamu melihat dia berhenti di pinggir jalan? Mungkin kebetulan, karena tak ada jalan lain untuk dia, juga untuk kamu. Tapi kalau dia membeli sesuatu yang khas dan membuat kamu ingin tertawa geli sampai sekarang? Kebetulan?

Ketika kamu baru saja bilang, “Aku belum pernah ke Bali,” apakah ada kemungkinan kalau beberapa hari kemudian, seorang panitia lomba yang pernah kamu ikuti menelpon. Katanya kamu meraih juara satu. Hadiahnya, ke Bali. Lima hari. Kebetulan?

Ketika kamu sedang kebingungan parah, karena baterai laptopmu bocor. Kamu butuh sekali mencolokkan laptopmu pada sumber listrik, kalau tidak kamu tidak bisa mengerakan tugasmu. Pilihannya hanya stop kontak yang jauh dari teman lain, padahal kalian harus mengerjakannya bersama-sama. Beberapa saat yang membingungkan, seorang teman lain yang baru datang dan tidak tahu apa-apa, dengan santai mengeluarkan kabel olor. Kebetulan?

Ketika masuk sekolah, tentu kamu tidak memikirkan orang lain mau memilih sekolah mana. Kamu berpikir untuk memilih sekolah terbaik, dengan nilai yang kamu punya. SD, atau SMP yang sama, mungkin kebetulan. Tapi kalau sejak TK sampai Perguruan Tinggi? Terutama kalau rumah kalian cukup dekat dan orang tua kalian saling kenal? Apalagi kamu perempuan dan dia laki-laki. Masih kebetulan kah?

Ketika kamu mendaftar suatu les bahasa inggris. Berapa kemungkinannya temen les bahasa inggrismu bisa sekelas lagi sama kamu di les yang lain? Berapa kemungkinannya teman les bahasa inggrismu rumahnya dekat sekali denganmu, bahkan kalian juga beberapa ikut lomba bersama? Berapa kemungkinan teman les bahasa inggris (yang juga pernah kamu taksir ) ) yang juga kakak kelasmu, adalah tutor belajar teman sekelasmu?

Ketika kamu menjalankan ibadah umroh dengan keluargamu. Apakah ada peluang bahwa teman sekolahmu (yang tidak kamu kenal dekat) ikut dalam travel yang sama? Kalian ada di kebun kurma yang sama dalam waktu yang sama? Ternyata kamu dan dia masuk di universitas dan jurusan yang sama sekarang. Ternyata kalian memiliki rute angkot yang sama waktu SMP. Ternyata orangtuanya adalah rekan kerja orangtua sahabatmu. Kebetulan?


Fyi, semua contoh di atas adalah kisah nyata. Beberapa pengalaman teman atau saudara, beberapa pengalaman pribadi bahkan pengalaman orangtua. Saya jadi semakin yakin kalau kebetulan itu tidak ada. Segala sesuatu yang kita anggap kebetulan itu ya...memang harusnya begitu. Apa ya namanya, jodoh? Takdir? Garis nasib? Terserahlah.
Yang pasti asyik, semacam film versi layar superlebar. Iya kan? ))

Rabu, 28 Maret 2012

Hmmm

"Rindu yang tak berbalas itu seperti lubang hitam. Menyedot habis semua senyum, tawa, dan canda yang aku punya. Kita duduk berdekatan, tapi kita sendiri-sendiri.

Sayang, surat ini tak perlu dibalas. Tetapi balaslah rinduku, maka aku akan tetap waras"


copas from here

Sepertinya surat ini bukan cuma nggak perlu dibalas, tapi juga nggak bakal dikirim. Well, galau detected.